Berita

The Jakarta Post: Menanamkan Pemikiran Kritis kepada Generasi Muda untuk Merayakan Hari Anak Nasional

menanamkan di benak kaum muda

Kembali ke sekolah: Murid-murid Sekolah Dasar Negeri di Kampung Tanjung Ria, Jayapura, Papua, mengikuti upacara pada 16 April 2024 untuk menandai hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang Hari Raya Idul Fitri. (Antara/Gusti Tanati)

Jaspal Sidhu (The Jakarta Post)

Jaspal Sidhu

“Di abad ke-21, dengan kemajuan kecerdasan buatan, pemikiran kreatif kini dianggap sebagai salah satu atribut terpenting bagi individu dan siswa.”

Anak-anak adalah anugerah yang sangat berharga bagi orang tua dan juga bangsa. Ketika kita membangun bangsa kita untuk menghadapi tantangan di masa depan, investasi terbesar yang dapat kita lakukan adalah memastikan bahwa anak-anak kita memiliki keterampilan, keberanian, dan empati untuk membawa negara ini maju. Indonesia selalu memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan generasi muda. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional hari ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) telah mengidentifikasi enam poin penting untuk perayaan tahun ini dengan tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Keenam sub-tema yang dipilih adalah: Anak Cerdas Menggunakan Internet Sehat; Suara Anak dalam Pembangunan Nasional; Pancasila di Hati Anak Indonesia; Berani Memimpin dan Bersuara, Anak sebagai Pelopor dan Pelapor; Pengasuhan Anak yang Baik dan Digital; Masa Kecil Tanpa Kekerasan; Perkawinan Anak dan Pekerja Anak. Ini semua adalah bidang-bidang yang sangat penting dalam perkembangan anak. Pujian untuk pemerintah yang telah mengakui bahwa perkembangan seorang anak harus mencakup ilmu-ilmu keras, dan juga memastikan bahwa mereka dapat tumbuh di lingkungan yang aman dan terjamin untuk memastikan bahwa mereka berkembang menjadi individu yang utuh. Indonesia telah membuat langkah besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan publiknya. Pasal 31 Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang No. 20/2003 tentang pendidikan nasional mewajibkan pemerintah untuk mengalokasikan setidaknya 20 persen dari anggaran tahunannya untuk pendidikan.

Hal ini telah menghasilkan peningkatan yang nyata dalam akses bagi jutaan anak Indonesia untuk mendapatkan pendidikan publik. Selama beberapa tahun terakhir, fokus sektor publik dan swasta telah bergeser dari kuantitas ke kualitas.

Di perkotaan, 84 persen anak usia sekolah dasar bersekolah sementara di pedesaan, angka tersebut mencapai 85 persen. Yang lebih penting lagi, tidak ada perbedaan gender yang signifikan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Akibatnya, angka melek huruf di negara ini mencapai 99,76 persen. Itu adalah pencapaian yang mengesankan dan patut dirayakan. Tantangan selanjutnya, bagaimanapun, adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan dan mendidik anak-anak untuk berpikir kritis sehingga menjadi anggota masyarakat yang produktif yang mampu mendapatkan pekerjaan layak dan pendapatan layak. Di abad ke-21, dengan kemajuan kecerdasan buatan, berpikir kreatif kini dianggap sebagai salah satu atribut terpenting bagi individu dan siswa.

Namun, apa sebenarnya pemikiran kreatif itu dan mengapa hal ini sangat penting? Berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dan inovatif. Ini adalah keterampilan berharga yang dapat bermanfaat bagi siswa dalam semua aspek pendidikan mereka, mulai dari pemecahan masalah hingga komunikasi. Di luar kemampuan matematika, membaca dan menulis, berpikir kreatif memberdayakan siswa untuk berpikir di luar kebiasaan dan menghubungkan berbagai hal. Sayangnya, di bidang ini Indonesia tampaknya masih kesulitan, namun memiliki peluang besar untuk berkembang. Pada tahun 2022, saat negara-negara menghadapi dampak yang berkepanjangan dari pandemi COVID-19, hampir 700.000 siswa dari 81 negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan mitra ekonomi berpartisipasi dalam program tes Penilaian Siswa Internasional (PISA). Penilaian ini menguji kemampuan siswa berusia 15 tahun untuk menghasilkan ide-ide yang beragam dan orisinil serta untuk mengevaluasi dan meningkatkan ide-ide tersebut, dalam berbagai konteks melalui komunikasi terbuka dan tugas-tugas pemecahan masalah. Penting untuk dicatat bahwa keunggulan akademis bukanlah prasyarat untuk keunggulan dalam berpikir kreatif.

Sementara sekitar setengah dari siswa yang memiliki nilai tertinggi dalam berpikir kreatif juga memiliki nilai yang baik dalam matematika, banyak siswa yang memiliki nilai rendah dalam matematika memiliki nilai yang baik dalam berpikir kreatif. Namun, sangat sedikit siswa yang memiliki nilai buruk dalam matematika yang unggul dalam berpikir kreatif. Dalam daftar Kinerja Berpikir Kreatif OECD, Singapura mendapat nilai tertinggi dengan nilai rata-rata 41, diikuti oleh Korea Selatan, Kanada, Australia, dan Selandia Baru dalam daftar lima negara teratas. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia berada di peringkat keenam dari bawah dari 81 peserta dengan skor 19. Hanya Filipina di antara negara-negara ASEAN yang berada di bawah Indonesia. Oleh karena itu, pertanyaan bagi para pendidik di Indonesia adalah bagaimana mereka dapat memicu pemikiran kreatif pada siswa mereka dan memotivasi anak-anak untuk belajar? Dapatkah berpikir kreatif diajarkan di sekolah dan bagaimana cara mengajarkannya? Jawabannya terletak pada perubahan cara kita mengajar anak-anak kita. Ketika kita menatap masa depan Indonesia dan tujuan nasional untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045, tantangannya adalah bagaimana kita harus mengajar anak-anak kita saat ini karena hal ini akan menentukan apakah Indonesia dapat mencapai tujuan tersebut. Dengan semakin banyaknya pekerjaan yang terotomatisasi, kreativitas akan semakin dibutuhkan. “Laju perubahan budaya melaju lebih cepat dari sebelumnya,” menurut Liane Gabora, profesor psikologi dan studi kreatif di University of British Columbia. Ketika kita menavigasi perubahan lingkungan, sosial, dan ekonomi yang kompleks di abad ke-21, para siswa harus inovatif, dan menggunakan pemikiran kritis dengan sengaja. Indonesia telah naik ke tingkat yang lebih tinggi dalam hal menyediakan pendidikan dasar bagi kaum mudanya. Langkah selanjutnya adalah mengembangkan pikiran mereka dengan tidak hanya mengisinya dengan fakta-fakta, tetapi juga dengan mengajari mereka cara berpikir. Untuk mencapai hal ini, seluruh sektor pendidikan; pemerintah, sekolah negeri dan swasta harus bekerja sama.

***

Penulis adalah pendiri dan ketua Singapore Intercultural School (SIS) dan Grup Sekolah Inspirasi. Pandangan yang diungkapkan adalah miliknya sendiri.

 

Sumber:

https://www.thejakartapost.com/opinion/2024/07/23/imbuing-young-minds-with-critical-thinking-to-celebrate-national-childrens-day.html

Berita Lainnya

Semua yang Penting Dimulai di Tahun-Tahun Awal

Terinspirasi dari Semua yang Saya Butuhkan untuk Tahu Saya Pelajari di TK Penulis: Swany Anditya, S.Psi. – Koordinator Usia Dini

Belajar Kebiasaan Sehat dan Kreativitas melalui STEM & Minggu Sehat 2026

Ditulis oleh: Ms Lala – Asisten Guru, K1 Kelud Program Pekan STEM dan Sehat adalah pengalaman belajar yang menarik

Semangat Kartini di Sekolah Inspirasi: Melestarikan Budaya Indonesia

Oleh: Dewina Atika Sari – Guru N2 Bromo Hari Kartini di Sekolah Inspirasi sangat meriah dan bermakna. Dengan

Gulir ke Atas