Berita

Apa yang Sebenarnya Dicari Orang Tua Indonesia Saat Memilih Sekolah Swasta

Apa yang Sebenarnya Dicari Orang Tua Indonesia Saat Memilih Sekolah Swasta

Oleh: Jaspal Sidhu

Saat memilih sekolah swasta di Indonesia, pada akhirnya orang tua mencari lebih dari sekadar kurikulum, fasilitas yang mengesankan, atau hasil akademik yang baik. Mereka ingin tahu apakah anak mereka akan bahagia, dikenal dengan baik, mendapat tantangan yang sesuai, dan diperhatikan; apakah para gurunya kompeten dan benar-benar peduli terhadap perkembangan anak; serta apakah sekolah tersebut akan mempersiapkan anak bukan hanya secara akademis, tetapi juga dengan karakter, kepercayaan diri, dan keterampilan yang mereka perlukan untuk masa depan. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu mudah untuk diajukan, dan jawabannya jarang dapat ditemukan dalam brosur atau presentasi. Sering kali, jawabannya justru muncul ketika kita melihat lebih dekat orang-orang, budaya, dan kehidupan sehari-hari di sebuah sekolah.

Setelah bekerja di berbagai wilayah di kepulauan Indonesia yang indah ini, dari Aceh hingga Kalimantan, pertama sebagai seorang insinyur dan kemudian mendirikan sekolah serta mengembangkan kawasan permukiman selama 30 tahun terakhir, saya mendapatkan kesempatan istimewa untuk mengenal Indonesia dengan cara yang mungkin tidak banyak dialami oleh orang dari luar Indonesia.

Indonesia telah mengajarkan banyak hal kepada saya tentang bahasa, budaya, dan hubungan sosial yang membentuk cara masyarakat berinteraksi. Secara khusus, saya selalu mengagumi betapa pentingnya rasa hormat dan kesopanan bagi masyarakat Indonesia, serta penghormatan yang secara alami diberikan kepada institusi dan orang-orang yang dianggap memiliki keahlian.

Namun ironisnya, sisi indah dari budaya Indonesia ini terkadang dapat membuat interaksi pertama antara orang tua dan sekolah menjadi lebih rumit. Kedua belah pihak berusaha untuk saling menghormati, tetapi kesopanan itu sendiri terkadang membuat percakapan tidak menggali sedalam yang seharusnya. Orang tua mungkin secara alami berpikir: Anda adalah pendidik. Anda memahami pendidikan. Bimbinglah saya..

Saya memahami perasaan tersebut. Situasinya sedikit seperti duduk berhadapan dengan dokter setelah menerima hasil pemeriksaan. Anda memiliki pertanyaan, tetapi tidak benar-benar yakin apa yang harus ditanyakan. Apakah ada sesuatu yang seharusnya saya tanyakan, tetapi saya bahkan tidak tahu bahwa saya perlu menanyakannya? Jika dokter tidak melibatkan Anda dalam percakapan, konsultasi bisa berakhir dengan cepat dan Anda pulang sambil berharap tadi sempat bertanya lebih banyak.

Saya percaya banyak orang tua mengalami hal serupa ketika memilih sekolah. Ditambah dengan budaya kesopanan dan rasa hormat yang mengakar kuat di Indonesia, percakapan dapat tetap sopan dan ramah, tetapi juga cukup dangkal. Orang tua kemudian pulang sambil berpikir, "Apa sebenarnya yang baru saya ketahui yang sebelumnya belum saya baca di situs web sekolah?" Dan mungkin juga, "Seandainya tadi saya bertanya lebih banyak.”

Saran untuk Sekolah: Dengarkan Sebelum Menjual

Sekolah tidak boleh menganggap kesopanan orang tua sebagai tanda bahwa mereka kurang memiliki pengetahuan, rasa ingin tahu, atau aspirasi bagi anak mereka. Sering kali ada jauh lebih banyak hal dalam pikiran orang tua daripada yang mereka ungkapkan pada awal percakapan. Karena itu, sekolah yang baik memiliki tanggung jawab untuk menembus formalitas tersebut, bukan dengan berusaha menjual lebih keras, tetapi dengan mendengarkan lebih baik.

Jangan terburu-buru memulai presentasi. Tanyakan tentang anak mereka. Apa yang mereka sukai? Apa yang dikhawatirkan orang tua? Apa harapan mereka? Berikan orang tua waktu untuk berbicara, dan Anda akan mulai mendengar pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya berada di balik pertanyaan yang mereka sampaikan: Apakah anak saya akan bahagia di sini? Apakah para guru akan peduli? Apakah ada yang akan menyadari jika anak saya mengalami kesulitan? 

Percakapan pun bergeser dari "Apa yang ditawarkan sekolah Anda?" menjadi sesuatu yang jauh lebih penting: "Apakah saya percaya kepada orang-orang ini?"

Mungkin Sekolah Membutuhkan iFAQ, Bukan Hanya FAQ

Sekolah biasanya menyiapkan FAQ, atau Frequently Asked Questions, yang mencakup biaya, kurikulum, fasilitas, dan jam sekolah. Tentu saja hal ini berguna. Namun, mungkin sekolah juga membutuhkan iFAQ, atau Infrequently Asked Questions: pertanyaan yang mungkin jarang diajukan, tetapi sebenarnya perlu ditanyakan.

Menariknya, beberapa pertanyaan terpenting justru seharusnya datang dari pihak sekolah: Ceritakan tentang anak Anda. Apa yang membuat mereka bahagia? Dalam hal apa mereka mengalami kesulitan? Apa yang Anda khawatirkan? Apa harapan Anda untuk mereka? Anda ingin mereka tumbuh menjadi pribadi seperti apa?

Tiba-tiba, kita tidak lagi berbicara tentang sekolah yang berusaha mendaftarkan seorang siswa, tetapi mulai berbicara tentang seorang anak. Itulah percakapan yang seharusnya ingin dilakukan oleh setiap sekolah yang baik.

Apakah Memilih Sekolah Berbeda di Kota-Kota yang Lebih Kecil di Indonesia?

Kekhawatiran mendasarnya tetap sama, tetapi dapat terasa lebih nyata di kota-kota Indonesia yang lebih kecil dan sedang berkembang. Kami telah melihat hal ini di berbagai komunitas seperti Sidoarjo dan Kediri di Jawa Timur.

Sebuah keluarga di Jakarta atau Surabaya mungkin sudah mengunjungi banyak sekolah swasta dan terbiasa dengan berbagai kurikulum serta pendekatan pengajaran. Mereka memiliki berbagai pengalaman sebagai bahan perbandingan. Orang tua di kota-kota yang lebih kecil mungkin hanya memiliki lebih sedikit sekolah untuk dibandingkan dan lebih sedikit kesempatan untuk mengenal berbagai model pendidikan.

Hal tersebut tidak berarti aspirasi mereka lebih rendah. Mereka menginginkan setiap kesempatan terbaik bagi anak-anak mereka; mereka mungkin hanya belum mengetahui semua pertanyaan yang sebenarnya berhak mereka ajukan.

Hal ini memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepada sekolah. Alih-alih berlindung di balik jargon pendidikan atau istilah-istilah yang terdengar mengesankan, sekolah seharusnya membantu orang tua memahami seperti apa pendidikan yang baik dalam praktiknya. Setelah percakapan selesai, orang tua seharusnya tidak hanya memahami sekolah dengan lebih baik, tetapi juga lebih siap untuk menentukan apakah sekolah tersebut merupakan pilihan yang tepat bagi anak mereka.

Saran untuk Orang Tua: Tetap Hormat, Tetapi Gali Lebih Dalam

Saran saya kepada orang tua sederhana: tetaplah menghormati, kesampingkan formalitas, dan gali lebih dalam. Anda tidak perlu menjadi seorang pendidik untuk mengajukan pertanyaan yang baik. Jika ada sesuatu yang tidak Anda pahami, tanyakan: "Apa sebenarnya arti hal tersebut bagi anak saya?"

Dan jangan hanya mendengarkan. Amati. Berjalanlah mengelilingi sekolah. Apakah anak-anak terlihat bahagia dan percaya diri? Bagaimana guru berbicara kepada mereka? Apakah kepala sekolah mengenal para siswa? Terkadang, apa yang Anda lihat dalam sepuluh menit dapat memberi tahu Anda lebih banyak daripada apa yang Anda dengar dalam presentasi selama satu jam.

Tanyakan Tentang Guru, Bukan Hanya Kurikulum

Jangan hanya bertanya, "Kurikulum apa yang digunakan?" Tanyakan juga, "Siapa yang sebenarnya akan mengajar anak saya?" Dua sekolah dapat menawarkan kurikulum yang sama persis tetapi memberikan pengalaman yang sama sekali berbeda. Pada akhirnya, kurikulum adalah sebuah kerangka; gurulah yang menghidupkannya.

Tanyakan bagaimana guru dipilih, dilatih, dan didukung. Apa yang terjadi jika seorang anak tidak memahami pelajaran? Seberapa cepat orang tua akan diberi tahu jika anak mereka mulai tertinggal? Siapa yang akan menyadari jika seorang anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi pendiam?

Lihat Lebih Jauh dari Sekadar Fasilitas

Fasilitas yang baik memang penting, tetapi gedung yang mengesankan tidak boleh disamakan dengan pendidikan yang mengesankan. Laboratorium sains yang luar biasa tetapi jarang digunakan siswa hanyalah dekorasi. Maker space tanpa guru yang tahu cara memanfaatkannya hanyalah ruangan yang mahal. Teknologi tanpa pengajaran yang baik hanyalah teknologi yang mahal.

Lihatlah ke dalam ruang kelas dan perhatikan hasil karya siswa. Apakah anak-anak bertanya, berkolaborasi, menciptakan sesuatu, dan memecahkan masalah? Jangan hanya bertanya, "Apa yang dimiliki sekolah ini?" Tanyakan, "Apa yang dilakukan anak-anak dengan apa yang dimiliki sekolah ini?"

Tanyakan Apa yang Terjadi Ketika Ada Masalah

Setiap sekolah dapat menjelaskan kepada orang tua apa yang terjadi ketika semuanya berjalan dengan baik. Tanyakan apa yang terjadi ketika keadaan tidak berjalan dengan baik. Apa yang dilakukan jika seorang anak mengalami perundungan, merasa tidak bahagia, atau tertinggal dalam pelajaran? Kepada siapa orang tua harus berbicara, dan seberapa cepat sekolah akan merespons?

Tidak ada sekolah yang sempurna. Jangan mencari sekolah yang mengklaim tidak pernah memiliki masalah. Carilah sekolah yang memiliki budaya, sistem, dan kejujuran untuk menangani masalah dengan baik ketika masalah tersebut muncul. Cara sebuah sekolah bertindak pada hari yang sulit mungkin mengungkapkan lebih banyak tentang nilai-nilainya daripada Open House mana pun.

Tanyakan Tentang Karakter dan Masa Depan

Wajar jika orang tua bertanya tentang hasil ujian, tetapi tanyakan juga: "Anda ingin membantu anak saya tumbuh menjadi pribadi seperti apa?" Bagaimana sekolah mengembangkan kepercayaan diri, ketangguhan, empati, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap orang lain?

Tanyakan juga masa depan seperti apa yang sedang dipersiapkan sekolah bagi anak-anak. Fondasi akademik tetap sangat penting, tetapi anak-anak masa kini juga akan membutuhkan kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, berkolaborasi, kreativitas, kemampuan beradaptasi, penggunaan teknologi secara cerdas, serta kemampuan untuk terus belajar.

Rapor seorang anak memberi tahu kita sesuatu yang penting tentang pendidikannya. Namun, rapor tidak memberi tahu kita semua hal penting tentang anak tersebut.

Satu Pertanyaan Terakhir

Setelah presentasi, penjelasan kurikulum, tur fasilitas, dan pembahasan mengenai biaya, mungkin pertanyaan yang paling penting adalah: "Bisakah saya membayangkan anak saya berada di sini?" Bukan hanya belajar di sini, tetapi tumbuh dan berkembang di sini. Apakah mereka akan dikenal, mendapatkan tantangan yang sesuai, dan diperhatikan? Apakah seseorang akan menyadari ketika ada sesuatu yang tidak beres? Dan pada akhirnya: "Apakah saya memercayai orang-orang ini untuk mendampingi anak saya dalam proses menjadi dirinya kelak?"

Pemikiran inilah yang menjadi bagian penting dari alasan kami membangun SIS dan Inspirasi Schools. SIS terutama melayani keluarga di kota-kota Indonesia yang lebih besar dan lebih mapan, sementara Inspirasi didirikan untuk menghadirkan pendidikan berkualitas bagi keluarga di kota-kota yang lebih kecil dan sedang berkembang. Kami bertanya kepada diri sendiri, mengapa pemikiran pendidikan yang baik, pengajaran yang kuat, dan persiapan untuk masa depan harus terkonsentrasi terutama di kota-kota terbesar di Indonesia atau hanya tersedia bagi keluarga yang mampu membayar biaya pendidikan yang lebih tinggi?

Inspirasi tidak pernah dibangun untuk menawarkan versi pendidikan yang lebih sederhana kepada anak-anak di kota-kota yang lebih kecil. Justru sebaliknya. Tempat tinggal seorang anak seharusnya tidak menentukan kualitas pendidikan yang dapat mereka cita-citakan. Kota, gedung, dan biayanya mungkin berbeda, tetapi aspirasinya tidak boleh berbeda.

Di SIS dan Inspirasi, kami selalu mengingatkan tim kami bahwa Open House atau kunjungan sekolah tidak seharusnya sekadar menjadi kesempatan untuk memberi tahu orang tua betapa baiknya sekolah kami. Hal tersebut seharusnya menjadi kesempatan untuk memahami anak mereka, mendorong orang tua mengajukan pertanyaan yang benar-benar penting, serta menjawab pertanyaan tersebut secara terbuka dan jujur.

Dan jika kami tidak mengajukan pertanyaan yang tepat, orang tualah yang seharusnya mengajukannya. Baik itu SIS, Inspirasi, maupun sekolah lainnya, tetaplah menghormati, tetapi gali lebih dalam. Bertanyalah, amati, dan jangan ragu untuk mempertanyakan.

Karena pada akhirnya, memilih sekolah bukan hanya tentang sekolah itu sendiri. Ini tentang memilih orang-orang yang akan diberi kepercayaan untuk turut membentuk masa depan seorang anak.

Berita Lainnya

Apa yang Sebenarnya Dicari Orang Tua Indonesia Saat Memilih Sekolah Swasta

Apa yang Sebenarnya Dicari Orang Tua Indonesia Saat Memilih Sekolah Swasta

Penulis: Jaspal Sidhu Ketika memilih sekolah swasta di Indonesia, orang tua pada akhirnya mencari lebih dari sekadar kurikulum,

Cara Membandingkan Biaya Sekolah: Menemukan Nilai Terbaik untuk Pendidikan Anak Anda

Cara Membandingkan Biaya Sekolah: Menemukan Nilai Manfaat Terbaik untuk Pendidikan Anak Anda

Penulis: Gyan Sidhu, B.A., M.Sc. – Chief Operating Officer Memilih sekolah adalah salah satu keputusan terbesar yang akan dibuat oleh sebuah keluarga,

Raffles Institution: Arsitektur Moral Sebuah Institusi yang Bertahan Lama

Raffles Institution: Arsitektur Moral Sebuah Institusi yang Bertahan Lama

Dalam kurun waktu tiga bulan, saya mendapati diri saya merayakan Hari Pendiri dua institusi yang terpisah oleh 173 tahun

Gulir ke Atas